Senin, 11 Oktober 2010

Berbagi Artikel

Kelompok 6
Anggota:

Lila Mubaroka (ketua)

Niswatul Hikkmah

Ajrine Anindya

Farah Azizah

Nabila Izzah

















1.      Batik Tuban
BATIK Tuban merupakan batik yang paling khas di Jawa Timur, Kenapa? karena proses pembatikannya dimulai dari bahan kain yang digunakan untuk membatik dipintal langsung dari kapas. Jadi gulungan kapas dipintal menjadi benang, lalu ditenun, dan setelah jadi selembar kain lalu dibatik. Batik ini kemudian disebut Batik Gedog.

Batik Tuban merupakan salah satu Batik Pesisiran, dimana mempunyai ciri khas yaitu warna yang beragam. Dalam buku Batik Fabled Cloth of Java karangan Inger McCabe Elliot dikatakan,

sebenarnya batik Tuban mirip dengan batik Cirebon pada pertengahan abad ke-19. Kemiripan ini terjadi pada penggunaan benang pintal dan penggunaan warna merah dan biru pada proses pencelupan. Namun, ketika Kota Cirebon mengalami perubahan dramatis dan diikuti dengan perubahan pada batiknya, batik Tuban tetap seperti semula.

Batik Gedog sebenarnya hampir punah, sebab orang sudah tidak suka lagi memintal benang. Tetapi kalau membatik, orang masih senang. Sedangkan kalau memintal benang, sangat jarang orang mau. Paling hanya ibu-ibu tua yang mau karena sudah tidak mampu lagi mengolah sawah atau ladang. Ditambah lagi, menurut beritaDetik.com pada tgl 14 Juni 2008 disebabkan harga bahan yang melambung tinggi karena dampak kenaikan harga minyak.




2. Batik Sidoarjo
Aneka batik ini adalah batik-batik asli khas Sidoarjo, Pengrajin batik di Kabupaten Sidoarjo memang tidak telalu banyak, namun telah ada pada ratusan tahun yang lalu, batik batik ini di buat secara turun temurun, oleh pengrajin batik hingga sekarang terkenal dengan kampung batik, ada juga yang namanya batik Kenongo...., ciri khas batik-batik Sidoarjo adalah warna yang dominan adalah merah, biru dan hijau dengan warna yang sangat kuat (terang) ini memang ciri khas batik Sidoarjo, batik -batik ini masih dikerjakan secara traditional yaitu dengan tulis (batik Tulis) dengan pewarnaan alami.
     
3. Batik Aceh

Batik Aceh mengeluarkan warna-warna yang cenderung berani, merah, hijau, kuning, merah muda.  Biasanya motif batik Aceh yang tertera pada kain melambangkan falsafah hidup masyarakatnya. Motif pintu misalnya, menunjukkan ukuran tingi pintu yang rendah. Motif tolak angin menjadi perlambang banyaknya ventilasi udara di setiap rumah adat, motif ini mengandung arti bahwa masyarakat Aceh cenderung mudah menerima perbedaan. Motif bunga jeumpa-bunga kantil, diambil karena banyak terdapat di aceh. Kuatnya pengaruh islam juga turut mewarnai motif-motif batik diantaranya ragam hias berbentuk sulur, melingkar, dan garis 
4. Batik Cirebon

Di Cirebon terdapat Batik Pesisiran, Batik Keratonan dan Batik Trusmi. Warna kain secara garis besar cerah dan ceria, merah, pink, biru langit, hijau pupus. Warna batik tradisional terpusat pada tiga warna yaitu krem, hitam, dan cokelat.  Batik Keratonan biasanya berwarna coklat soga atau keemasan.

Batik Pesisir dipengaruhi oleh budaya Cina. Motifnya lebih bebas, melambangkan kehidupan masyarakat pesisir yang egaliter. Motifnya banyak ditandai dengan gambar flora dan fauna seperti binatang laut dan darat, ikan, pepohonan, daun daunan. Batik Pesisiran : Batik bethetan Kedung Wuni Pekalongan, Motif Sarung Cirebonan, Bethetan Demak. 
  
Batik keraton dipengaruhi oleh Hindu dan Islam. Motifnya cenderung berupa batu-batuan (wadas), kereta singa barong, naga seba, taman arum dan anyam alas. Batik Keratonan : Motif Ganggang .
Dua motif Cirebon yang terkenal adalah Corak Singa Wadas dan Mega Mendung.    Motif Singa Wadas adalah corak resmi kesultanan Cirebon (Kasepuhan) yang memperlihatkan bentuk Singa Barong dari keraton Kasepuhan. Motif ini kental dengan warna coklat, hitam dan krem.

Motif Mega Mendung yang tidak ditemui di daerah lain, yaitu motif berbentuk awan yang bergumpal-gumpal yang biasanya membentuk bingkai pada gambar utama. Motif ini mendapat pengaruh dari keraton-keraton di Cirebon.  Motif ini kaya akan warna merah, biru, violet, dan keemasan.


5. Batik Banten

Motif khas Banten yaitu motif datulaya, dasar belah ketupat berbentuk bunga dan lingkaran dalam figura sulur-sulur daun dengan warna dasar biru, variasi motif pada figura sulur-sulur daun berwarna abu-abu pada dasar kain warna kuning.  Sebenarnya ada 75 ragam hias batik Banten tang berbentuk tumpal dan belah ketupat, namun sekarang hanya 12 motif yang diproduksi yaitu : datulaya, pamaranggen, pasulaman, kapurban, pancaniti, mandalikan, pasepen, surasowan, kawangsan, srimanganti, sabakingking, dan pejantren.

Datulaya berasal dari kata  Datu dan Laya. Datu berarti pangeran dan Laya adalah tempat tinggal
Yuuk kita pindah ke Jawa Tengah, jangan bosan yah untuk terus menyimak. Di Jawa Tengah ada batik Brebes atau dikenal dengan nama batik salem, batik Karanganyar, batik Klaten, batik Lamongan, batik Lasem, batik Pekalongan, batik Purworejo, batik Semarang, batik Solo, batik Sragen dan batik Tegal.
6. Batik Tasikmalaya
Warna dasar kain merah, kuning, ungu, biru, hijau, orange dan soga.  Dan warnanya cerah namun tetap klasik dengan dominasi biru. Batik Sukapura : berciri khas warna merah, hitam, coklat.
Motifnya kental dengan nuansa Parahyangan seperti bunga anggrek dan burung, selain itu ada juga motif Merak-ngibing, Cala-culu, Pisang-bali, Sapujagat, Awi Ngarambat.
Batik Tasik memiliki kekhususan tersendiri yaitu bermotif alam, flora, dan fauna. Batik Tasik hampir sama dengan Batik Garut hanya berbeda dari warna, Batik Tasik lebih terang warnanya.

7. Batik Madura
Ternyata, Pulau Madura tak hanya tersohor dengan karapan sapi dan garamnya. Wilayah yang termasuk Provinsi Jawa Timur ini juga terkenal sebagai penghasilbatik. Bahkan, produk batiknya memiliki ragam warna dan motif yang tidak kalah dengan produksi daerah lain. Maklum, batik Madura menggunakan pewarna alami sehingga warnanya cukup mencolok.
Namun, tak perlu repot-repot ke Pulau Madura. Keunggulan produk batik Madura itu dapat dilihat di Museum Tekstil di Jalan K.S. Tubun Nomor 4, Jakarta Barat. Salah satu contohnya kain batik buatan tahun 1930. Kain panjang yang biasa digunakan pada acara khitanan ini merupakan salah satu kain kuno yang ditampilkan dalam Pameran Batik Madura di Museum Tekstil, belum lama berselang.
Kendati sudah berumur 75 tahun, warna dari kain itu justru kian menonjol. Pewarnaan kain Madura yang menggunakan bahan alami dari tumbuh-tumbuhan, seperti kayu jambal, kulit buah jelawe, akar mengkudu, yang membuat kain ini semakin menarik untuk dilihat. Kain-kain itu dibuat melalui proses pembatikan dengan tangan dalam rentang waktu antara delapan bulan hingga satu tahun.
Selain warna yang mencolok, seperti kuning, merah atau hijau, batik Madura juga memiliki perbendaharaan motif yang beragam. Misalnya, pucuk tombak, belah ketupat, dan rajut. Bahkan, ada sejumlah motif mengangkat aneka flora dan fauna yang ada dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Madura.
 8. Batik Indramayu/Batik Paoman
Awalnya Batik Paoman hanya memiliki dua warna, yakni warna kain dan warna motif. Warna motif pun masih tradisional, seperti biru tua atau coklat tua. Kini warna-warna pada Batik Paoman lebih beragam.
Ciri yang menonjol dari Batik Indramayu adalah ragam flora dan fauna diungkap secara datar, dengan banyak lengkung dan gari-garis yang meruncing (riritan), latar putih dan warna gelap dan banyak titik yang dibuat dengan teknik cocolan jarum, serta bentuk isen-isen (sawut) yang pendek dan kaku. Motif wadasan, iwak ketong, parang rusak.
Motif-motif batik di Indramayu, banyak mendapat pengaruh besar dari gambar atau kaligrafi dari kawasan Arab, Cina atau daerah Jawa Tengah/Jawa Timur. Mayoritas motif batik yang digunakan pada Batik Indramayu menggambarkan kegiatan nelayan di tengah laut.  
Beberapa motif batik yang mencirikan motif Batik Pesisir khas Indramayu di antaranya adalah Etong (ikan, udang, cumi, kepiting, dll), Kapal Kandas, Ganggeng (ganggang laut), Kembang Gunda (tumbuhan yang hidup di pinggir pantai), dan Loksan.  Motif batik khas Indramayu juga ada yang menggambarkan kegiatan sehari-hari seperti Motif Swastika, Motif Merak Ngibing, Motif Kereta Kencana, dan Motif Jati Rombeng.  
Ragam hias geometris pada Batik Indramayu, antara lain: banji, kembang kapas, sijuring, pintu raja, obar-abir dan kawung. 
9. Batik Banyumas
Warna cerah dan penuh pada sisi lainnya, menjadi ciri khas batik Garutan. Didominasi warna dasar krem atau gading (gadingan), biru, dan soga agak merah. Adanya warna ungu pada corak / desain batik garutan.
Motif batik Garutan adalah Limar, Merak Ngibing yang menggambarkan sepasang burung merak sedang menari. Kemudian ada corak bulu ayam yang memperlihatkan ekor ayam yang panjang dan dilengkung setengah lingkaran. Selain itu, ada juga lereng adumanis, lereng suuk, lereng calung, lereng daun, cupat manggu, bilik, sapu jagat, lereng peteuy dan lainnya. Motif-motif yang dihadirkan berbentuk geometrik sebagai ciri khas ragam hiasnya. Bentuk-bentuk lain dari motif batik Garut adalah flora dan fauna. Bentuk geometrik umumnya mengarah ke garis diagonal dan bentuk kawung atau belah ketupat.

10. Batik Tegal
Warna dasar kain hitam dan putih. Batik tegalan didominasi warna coklat dan biru. Ciri khas lain batik Tegalan adalah berwarna-warni.
Corak gambar atau rengrengan besar dan melebar. Motifnya banyak mangadaptasi dari aneka flora dan fauna disekitar kehidupan masyarakat di kota Tegal. Motif Grudo (Garuda) dengan warna terang yang mempertontonkan bentuk-bentuk sayap burung garuda dan motif Gribigan dengan bentuk khas anyaman bambu dalam warna agak gelap. Motif lainnya seperti kuku macan, tapak kebo, beras mawur, ukel, batu pecah, kotakan, cecek awe, tambangan, grandilan, sawo rembet, buntoro, karung jenggot, kopi pecah, corak daun teh, poci, cempaka putih, benang pedhot, mayang jambe.

11. Batik Yogyakarta
YOGYAKARTA -- Hingga saat ini sedikitnya ada 350 motif batik Yogykarta yang telah memperoleh hak paten dari Kementrian Hukum dan HAM. Selebihnya motif batik Yogyakarta belum memperoleh hak paten secara resmi. Padahal motif batik di Yogyakarta mencapai 500 motif lebih.

Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Yogyakarta Hj Dyah Suminar mengatakan, sejak ditetapkannya batik oleh UNESCO sebagai warisan dunia, maka batik semakin dikenal luas di kalangan internasional. Karenanya menurut dia, edukasi terhadap masyarakat tentang batik itu sendiri sangat penting. "Kita sendiri sering menghimbau masyarakat untuk lebih mencitai batik kita, dan pada para pengrajin kita jembatani untuk kepengurusan hak paten," paparnya pada pembukaan pelatihan membatik pada masyarakat di Griya UKM Yogyakarta, Selasa (23/2).

Saat ini kata dia, penguasaan pasar batik motif Yogyakarta khususnya di DIY baru mencapai 10-20 persen dibanding batik-batik dari daerah lain, seperti Pekalongan atau Solo. Padahal kata dia, kota Yogyakarta terkenal dengan keunggulan kain batiknya, dan banyak wisatawan yang datang langsung ke Yogyakarta untuk berburu batik. "Tetapi pada realitanya, batik motif Yogyakarta atau batik yang dibuat di Yogyakarta baru menguasai 10-20 persen pasar," jelasnya.

Kondisi itu kata dia, terlihat di beberapa pasar tradisional, khususnya Beringharjo yang justru lebih banyak dikuasi oleh batik produksi Pekalongan dibandingkan dengan batik motif Yogyakarta sendiri. Namun begitu kata dia, ketersediaan barang dan bahan batik bermotif Yogyakarta atau batik yang dibuat di Yogyakarta sendiri juga lebih sedikit dibandingkan motif batik daerah lain, sehingga hal itu juga mempengaruhi produksi busana motif batik Yogyakarta. "Jumlah pengusaha batik di Yogyakarta cukup banyak, namun produksinya belum mampu mencapai angka yang signifikan untuk lebih bisa menguasai pasar," tandasnya.

12. Batik Pekalongan

Batik Pekalongan termasuk batik pesisir yang paling kaya akan warna. Sebagaimana ciri khas batik pesisir, ragam hiasnya biasanya bersifat naturalis. Jika dibanding dengan batik pesisir lainnya Batik Pekalongan ini sangat dipengaruhi pendatang keturunan China dan Belanda. Motif Batik Pekalongan sangat bebas, dan menarik, meskipun motifnya terkadang sama dengan batik Solo atau Yogya, seringkali dimodifikasi dengan variasi warna yang atraktif. Tak jarang pada sehelai kain batik dijumpai hingga 8 warna yang berani, dan kombinasi yang dinamis. Motif yang paling populer di dan terkenal dari pekalongan adalah motif batik Jlamprang.

Batik Pekalongan banyak dipasarkan hingga ke daerah luar jawa, diantaranya Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jambi, Minahasa, hingga Makassar. Biasanya pedagang batik di daerah ini memesan motif yang sesuai dengan selera dan adat daerah masing-masing.
Keistimewaan Batik Pekalongan adalah, para pembatiknya selalu mengikuti perkembangan jaman . Misalnya pada waktu penjajahan Jepang, maka lahir batik dengan nama’Batik Jawa Hokokai’,yaitu batik dengan motif dan warna yang mirip kimono Jepang. Pada umumnya batik jawa hokokai ini merupakan batik pagi-sore. Pada tahun enampuluhan juga diciptakan batik dengan nama tritura. Bahkan pada tahun 2005, sesaat setelah presiden SBY diangkat muncul batik dengan motif ‘SBY’ yaitu motif batik yang mirip dengankain tenun ikat atau songket. Motif yang cukup populer akhir-akhir ini adalah motif Tsunami. Memang orang Pekalongan tidak pernah kehabisan ide untuk membuat kreasi motif batik.

13. Batik Surabaya   
SUROBOYO - Batik Surabaya akan dilahirkan kembali. Inilah komitmen Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) Kota Surabaya. Bicara soal batik, orang lebih sering merujuk ke Pekalongan, Yogyakarta dan Solo. Namun sebenarnya setiap daerah bisa menghasilkan batik dengan ciri khas masing-masing. Tak terkecuali di Surabaya.
      TJAHJANI RETNO WILIS Ketua Dekranas Surabaya mengakui awalnya tidak menemukan koleksi batik asli Surabaya. Setelah melalui pencarian yang cukup panjang, geliat batik Surabaya pun mulai ditunjukkan.
      “Kalau di buku Pak DUKUT (budayawan, red) dulu di Surabaya ada kampung batik. Berarti bisa jadi, memang ada batik Surabaya. Tapi, memang saya belum menemukan batik asli Surabaya,” kata WILIS sapaan akrab TJAHJANI RETNO WILIS yang ditemui suarasurabaya.net di kediamannya, Kamis (01/10).
      Karena itu, WILIS melalui Dekranas Surabaya bertekad untuk melahirkan kembali batik Surabaya. Beberapa motif flora maupun fauna sudah mulai dikembangkan dengan tetap mengusung ciri khas Surabaya. Ada motif suro dan boyo, ayam jago, adu burung dara, semanggi dan yang terakhir adalah mangrove. 
      Saat ini, batik mangrove mulai diperkenalkan ke masyarakat sekitar Wonorejo dan Rungkut lewat Komunitas Batik SeRu (seni batik motif mangrove Rungkut Surabaya) yang digagas Ny. LULUT SRI YULIANI. Sinergi pun dibangun untuk lebih mengembangkan batik mangrove seperti menggandeng UK Petra dari sisi pewarnaannya. 
      Pendampingan dan pelatihan mengenai batik dengan teknik tulis diberikan kepada ibu-ibu warga Surabaya. "Sudah kerjasama dengan Bapemas untuk melatih 4-5 orang yang diberi job order. Sekarang, mereka sudah mulai terima pesanan sendiri," ujar isteri ARIF AFANDI Wakil Walikota Surabaya ini.
      Diakui WILIS, batik Surabaya tidak seperti Sidoarjo ataupun Madura yang sudah lebih dulu memperkenalkan motif khasnya. Khusus Surabaya, motif batik masih harus digali dan dicari. Kunci utama adalah kreatifitas. Secara umum batik dari Jawa Timur biasanya tidak serumit batik Jawa Tengah. 
      Menurut WILIS, beberapa batik hasil karya khas Surabaya tidak kalah diminati sebagaimana batik Jawa Tengah. Bahkan diakui WILIS, potensi pasar untuk batik khas Surabaya sangat terbuka. Satu diantaranya lewat berbagai pameran yang difasilitasi Dekranas. 
      Merespon pengakuan UNESCO atas batik sebagai warisan budaya Indonesia, Dekranas pun memberikan dukungannya dengan memakai dan mempromosikan batik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar